Selasa, 25 Maret 2014
Rabu, 05 Maret 2014
Kisah: "Abi, berapa lama Kita dikubur?"
Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Fathiya berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet. Baju merahnya yg kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ku.
Fathiya dan Aku memasuki wilayah pemakaman umum Karet,berputar sejenak ke kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan "Hj Rajawali binti Muhammad : 19-10-1915: 20-01-1965". "Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo'a untuk nenekmu" Fathiya melihat wajah ku, lalu menirukan tangan ku yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti aku. Ia mendengarkan saya berdo'a untuk Neneknya. "Abi, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya." Akupun mengangguk sembari tersenyum, sembari memandang pusara. "Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya bi.." Kata Fathiya berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung "Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun ..." Fathiya memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini :19-02-1882: 30-01-1910"."Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Bi", jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi akupun mengangguk.
Tanganku terangkat mengelus kepala anak keduaku. "Memangnya kenapa nak ?" kata ku menatap teduh mata ku "Hmmm, Abi kan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan jika kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka" kata Fathiya sambil meminta persetujuan Ku "Iya kan Bi.?" Akupun tersenyum, "Iya .... Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong Bi dikubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur .... Ya nggak Bi?" mata Fathiya berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ku tentang pendapatnya. Akupun tersenyum, sambil ku termenung galau.... "Iya nak, kamu pintar," kata saya pendek. Pulang dari pemakaman, Akupun gelisah Di atas sajadah, memikirkan apa yang dikatakan anakku.... 42 tahun hingga sekarang.. kalau kiamat datang 100 tahun lagi...142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur .. Lalu Iama menunduk ... Meneteskan air mata... Kalau meninggal .. Lalu banyak dosanya ...lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti Aku akan disiksa 1000 tahun? InnalillaahiWAinna ilaihi rooji'un .... Air mata ku semakin banyak menetes, sanggupkah Aku selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu Aku akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi? Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin Aku sudah tak tahan?
Ya Allah... Aku pun semakin menunduk, tanganku terangkat, keatas bahuku naik turun tak teratur.... air mataku semakin membanjiri jenggotku
Allahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali ku baca DOA itu hingga suaraku serak ... Dan akupun berhenti sejenak ketika terdengar batuk Fathiya.
Ku hampiri Fathiya yang tertidur di atas dipan Bambu. Aku betulkan selimutnya. Fathiya terus tertidur.... tanpa tahu, betapa Aku sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan... Dan apa yang akan datang di depannya...
"Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku..."
Sabtu, 01 Maret 2014
Cerita mengharukan Rasulullah di Perang Uhud
Perang Uhud adalah saat dimana Umat Islam mengalami kekalahan, bahkan pada saat itu Rasulullah saw pun terluka dengan kondisi rahang beliau ditembus oleh anak panah.
Ketika anak panah itu menembus rahang Rasulullah saw, darah pun mengalir. Darah itu menetes keluar dari rahang beliau dan beliau menampung tetesan-tetesan darah itu dengan tangannya agar tidak tumpah kebumi.
Para sahabat melihat itu, Rasulullah seperti tersibukkan dengan menampung darah tsb, dan para sahabat pun berkata "Ya Rasulullah, biarkan saja darah itu mengalir (maksudnya tidak perlu di tampung)", akan tetapi Rasulullah saw tetap menampungnya.
Rasulullah saw tetap berusaha menahan darah yang mengalir agar jangan sampai jatuh ke tanah, dan beliau pun berkata : "Jika saja ada setetes darahku ini jatuh ketanah, maka Allah akan menimpakan bala yang sangat besar untuk orang2 kafir Quraisy yang memerangiku"
Allah akan murka besar jika ada setetes darah dari wajah Rasulullah yang menyentuh tanah, dan Rasulullah menjaga itu, jiwa yang mulia itu dalam kondisi kesakitan masih sempat-sempatnya memikirkan orang lain,
Jangan sampai ada setetes darah pun yang mengalir ke bumi, dan beliau tidak peduli ada panah yang menancap di rahang beliau, beliau memikirkan jangan sampai musibah turun kepada orang yang memeranginya.
Riwayat dari Imam Ibnu Hajar Al Asqalani didalam Fathul bari Syarah Shahih Bukhari.
Subhanallah, betapa mulianya akhlak Nabi kita.